Sejarah Berdirinya PT. Silvano Maynard Jaya

Pendahuluan
- Silvano Maynard Jaya (SMJ) resmi didirikan pada Selasa, 3 Maret 2020 pukul 03.00 WIB, berdasarkan Akta Pendirian Nomor 03 dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) 02200006603306. Sejak awal berdiri, SMJ tampil sebagai salah satu pionir agrobisnis di Indonesia Timur, dengan cita- cita menghadirkan wajah baru bagi pertanian modern yang berpadu dengan kearifan tradisional.
SMJ berkomitmen menghadirkan solusi tepat guna dan berkelanjutan bagi petani, melalui integrasi teknologi modern, semangat pemberdayaan, dan sistem kemitraan yang mutualis. Segala sesuatu dibangun atas kesadaran bahwa usaha dan kerja nyata yang dibarengi doa tidak pernah sia-sia.
Landasan kerja ini dirumuskan dalam pola Kesadaran – Kemauan – Kemampuan – Komitmen (K4), serta pendekatan Pemberdayaan – Pelatihan – Pendampingan – Pengembangan (P4). Tujuannya sederhana namun mendalam: membentuk sikap, perilaku, dan karakter petani yang terpuji serta bermental juara, sehingga kesejahteraan bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan.
Dalam konteks NTT yang masih bergulat dengan kemiskinan, banyak lahan yang dibiarkan terbengkalai, dan budaya “gengsi” yang kerap menghalangi kerja nyata, SMJ tampil membawa angin segar perubahan. Kehadiran SMJ tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga membangkitkan harapan agar tokoh Gereja, pemerintah, dan masyarakat saling menggandeng tangan. Dari yang semula dianggap mustahil, lahirlah kesadaran baru bahwa dengan kolaborasi strategis dan misi yang berdampak, tanah ini bisa menjadi sumber kesejahteraan dan berkat bagi banyak orang.
September 2020: Awal Mula
Perjalanan SMJ dimulai dari tekad sederhana seorang karyawan swasta, Bapak Silvester Sudin, yang berpengalaman di perusahaan perminyakan asing seperti Sedco Forex dan PT. Total Exploration & Production Indonesie (TEPI) dan trading Company seperti PT.British American Tobacco (BAT),dll. Dari pengembaraan hidupnya, ia merumuskan visi sederhana tetapi kuat: “Jadikan sumber daya alam bernilai ekonomi tinggi di daerah pedesaan.”
Pada tahun pertamanya, SMJ fokus pada pemberdayaan petani madu hutan liar di Manggarai, Ngada, Nagekeo, dan Boru – Flores, NTT. Selain itu, dikembangkan pula produk Virgin Coconut Oil (VCO) dengan nama dagang GraThiRo.
Langkah awal ini menjadi pondasi penting. Seperti benih kecil yang jatuh di tanah subur, visi itu tumbuh menjadi pohon yang berbuah berkat, karena dikerjakan dengan ketekunan, kesabaran, keuletan dan doa.
Pada kenyataannya, kehidupan masyarakat NTT kala itu tidak mudah. Lahan luas terbentang, tetapi banyak yang terbengkalai tanpa digarap. Sebagian orang masih terperangkap dalam sikap enggan untuk bertani, bahkan memandang rendah pekerjaan mengolah tanah. Ditambah lagi, tekanan ekonomi dan iklim yang kerap tidak bersahabat membuat hidup semakin berat. Dalam keadaan seperti inilah langkah kecil SMJ mulai tampak berarti: menyalakan bara semangat bahwa kerja keras, keberanian untuk berubah, dan doa yang tulus mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.
2023 – 2024: Menabur Harapan di Ladang Jagung
Tahun 2023, SMJ memperluas kiprah dengan memperkenalkan Good Agricultural Practices (GAP) dalam budidaya jagung. Sosialisasi dilakukan dari kampung ke kampung, desa ke desa, bahkan ke Gereja-gereja Katolik di Manggarai.
Puncaknya, pada 30 November – 1 Desember 2023, PT. SMJ menggelar pelatihan GAP di Seminari Pius XII Kisol, yang dihadiri puluhan petani teladan dan penyuluh pertanian lapangan dari berbagai
desa. Acara ini merupakan kolaborasi strategis bersama PT. Syngenta Indonesia, PT. Segar Agro Nusantara, dan PT. Pupuk Petro Gresik.
Awal Desember 2023, tim SMJ melanjutkan dengan pendampingan lapangan bagi para petani jagung. Pada 20 April 2024, diadakan panen raya perdana di lahan Seminari Pius XII Kisol, dihadiri Penjabat Bupati Manggarai Timur, Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, manajemen PT. Syngenta Indonesia, PT. Segar Agro Nusantara, serta ratusan petani.
Pesan yang disampaikan penuh makna: jangan ragu menanam jagung, karena pasarnya sudah jelas. Gereja pun diajak membuka diri untuk kolaborasi strategis, demi akselerasi ekonomi, spiritualitas, dan pendidikan umat.
Namun perjalanan tidak tanpa tantangan. Pada musim tanam 2023/2024, SMJ harus menanggung kerugian besar akibat El Nino, yang menyebabkan 102 hektar dari 500 hektar lahan gagal panen. Bagi sebuah perusahaan rintisan, ini pukulan berat. Tetapi filosofi SMJ jelas: kegagalan adalah guru, dan doa membuat langkah kembali tegak.
Belajar dari kegagalan, pada 15 Juli 2024, SMJ mengirim 15 orang ke Dompu, NTB, untuk belajar langsung praktik budidaya jagung. Tujuannya jelas: melahirkan petani contoh yang mampu menjadi teladan bagi keluarga, desa, dan NTT secara umum.
Dalam pendampingan petani, SMJ tidak setengah hati. Dukungan diberikan secara menyeluruh dan totalitas (Saprodi utama dan pendukungnya) : mulai dari pengujian tanah, pengolahan lahan, pola tanam sesuai GAP, pemupukan, pengendalian gulma, hingga pemasaran hasil. Singkatnya, SMJ hadir dari hulu hingga hilir.
Hasil nyata: di tahun tanam 2023/2024, meski dilanda kerugian, SMJ tetap berhasil menghasilkan 1.800 ton jagung pipil dengan kadar air 17%, yang langsung dijual ke PT. Segar Agro Nusantara dan pasar lokal di Flores.
Kenyataan ini sekaligus membuka mata banyak pihak: di tengah lahan tidur yang terbengkalai, ternyata ada komunitas yang berani bergerak. SMJ menegaskan bahwa kerja keras bersama dapat mengubah wajah pertanian NTT, asalkan pemerintah, Gereja, dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menggandeng tangan dengan visi yang sama.
2024 – 2025: Transformasi dan Terobosan
Menghadapi tantangan, SMJ tidak menyerah. Dengan tekad “Komitmen dan Tangguh dalam Melintasi Masalah”, perusahaan berbenah dengan strategi Cepat, Senyap, dan Tepat (CST).
Beberapa langkah besar ditempuh:
- Penerapan teknologi drone untuk pemupukan dan pengendalian gulma, berkolaborasi dengan PT. Saprotan Utama Nusantara. Ini menjadi tonggak baru bagi pertanian NTT.
- Inovasi mesin pipil jagung modern berkapasitas 5 ton/jam, yang mempercepat kerja petani dan meningkatkan efisiensi.
- Panen raya akbar pada 10 April 2025 di Seminari Pius XII Kisol, dihadiri dua kementerian, pejabat daerah seFlores, pimpinan perusahaan mitra, Uskup Ruteng, serta ribuan petani.
Berbagai sambutan pejabat dan testimoni petani menjadi saksi sejarah: PT. SMJ dipandang sebagai bintang baru pertanian NTT khususnya dan Indonesia umumnya.
Hasilnya, tahun tanam 2024/2025 berhasil menghasilkan 8.000 ton jagung pipil berkadar air 17%, yang terserap pasar dengan harga menggembirakan.
Di balik keberhasilan ini, ada pesan mendalam: bahwa keterpurukan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. SMJ ingin membuktikan kepada masyarakat NTT bahwa bekerja di tanah sendiri bukanlah aib, melainkan kebanggaan.
2025 – 2026: Membentang Lebih Luas
Awal 2025, SMJ semakin meneguhkan diri. Perusahaan kini memiliki kantor, toko pertanian, dan gudang sendiri, sebagai basis operasional sekaligus modal untuk menjadi distributor resmi perusahaan besar.
Pada 10 September 2025, SMJ mengirim tujuh karyawan ke Sekolah Penerbangan Drone Frog Indonesia untuk melatih SDM menjadi pilot drone. Tidak berhenti di situ, empat unit drone baru dibeli demi memperluas cakupan pelayanan.
Pada musim tanam 2025/2026, SMJ akan berkarya di 11 kabupaten dan 6 keuskupan di NTT, melibatkan 1.800 petani dengan lahan 2.500 hektar, serta menyerap 5.000 tenaga kerja. Benih yang digunakan 90% biotek, demi menekan biaya produksi sekaligus memaksimalkan hasil.
Filosofi yang mengalir di balik semua ini sederhana namun kuat: kerja keras dengan doa melahirkan kesejahteraan; kesejahteraan menghadirkan martabat; martabat membawa kebahagiaan.
NTT yang dulu dianggap tanah kering penuh keterbatasan, kini perlahan menyingkap wajah barunya: tanah yang penuh harapan, tempat masyarakat, pemerintah, dan Gereja berjalan bersama. Dan di tengah perjalanan itu, PT. SMJ hadir sebagai motor penggerak, membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan doa, sesuatu yang mustahil pun bisa diubah menjadi mungkin.
